Inspiration
Kontribusi , Tak Sekedar Prestasi
Sebut
saja pemuda ini bernama Arif. Di pertengahan Ramadhan dia melakukan
perjalanandari Surabaya menuju Jakarta untuk memenuhi sebuah undangan bedah
buku dari sebuah perusahaan. Ia lebh memilih naik kereta bisnis ketimbang
pesawat.
Kereta
siap diberangkatkan dari Stasiun Gubeng Surabaya tepat pukul 16.00. ia pun
duduk sesuai dengan nomor kursi yang dipesannya. Tak sengaja, ternyata ia duduk
bersebelahan dengan seorang ibu berusia lanjut. Sekitar enam puluh tahunan.
Arif pun berbasa-basi.
“Ibu turun Jakarta?”
tanya Arif seaya memaparkan senyum yang santun.
Ibu itu tersenyum
menangapi. “Iya, Nak. Turun Pasar Senen.”
“Ibu
bekerja, atau...”
“Bukan,
Nak! Mau mengunjungi anak-anak Ibu.”
“Oh, anak Ibu tinggal di Jakarta?”
“Iya,
Nak. Anak kedua dan ketiga Ibu tinggal di Jakarta.”
“Oh, begitu. Sudah bekerja atau...”
“Iya,
Nak, anak kedua Ibu masih kuliah S3 di UI, sedangkan anak Ibu yang ketiga jadi
dosen di UI juga.”
“Subhanallah, pasti Ibu bangga punya
anak-anak yang sukses seperti mereka. Oh,
iya, Bu, anak pertama Ibu?”
Tiba-tiba
wajah Ibu itu sendu. Tak lama kemudian, butiran bening mengalir di kelopak
matanya.
“Anak
pertama Ibu tetap di kampung, menggarap sepetak tanah warisan almarhum Bapaknya. Dia hanya lulusan SMP, Nak!”
Wajah
Arif pun mendadak merasa menyesal telah bertanya demikian. “Maaf, Bu. Saya
sudah membuat Ibu sedih. Mungkin Ibu sedih karena anak pertama Ibu tidak bisa
seperti adik-adiknya.”
“Oh, bukan! Bukan, Nak! Justru Ibu bangga
punya anka sperti dia. Karena dialah yang memotivasi adik-adiknya supaya agar
tetap bersekolah. Dialah yang bekerja keras , peras kerngat, banting tulang untuk
membiayai kuiah adik-adiknya. Dia yang tiap bulan mengirimi surat adik-adiknya
di kota., menanyakan kabar, memotivasi mereka untuk terus belajar, hingga
keduanya bisa seperti sekarang ini. Dialah putra yang sangat membanggakan di
mata Ibu dan adik-adiknya.”